Minggu, 27 November 2011

Hujan

Hujan ...
Selalu menghampiriku
Disaat ku merasakan
Pahit getirnya kehidupan
Manis indahnya kebahagiaan

Hujan ...
Bahasamu sungguh menakjubkan
Menenangkan hati dan pikiran
Membawa pada kedamaian
Dalam kegelisahan

Hujan ...
Rintikanmu menghanyutkan daku
Dalam sebuah suasana baru
Terkenang semua kenangan
Yang tak ternilai harganya

Hujan ...
Tetesanmu bak kejujuran
Ketulusan dari dalam hati
Melakukan yang terbaik
Menjalani hari dengan penuh senyuman :)

Sabtu, 10 September 2011

Kamera Ku Sayang, Kamera Ku Malang

Sekitar awal bulan Maret 2011, aku dan ayah pergi ke toko Fokus Nusantara. Tujuannya ingin membeli kamera, karena ada mata kuliah Teknik Fotografi dan Audio Visual. Sebelum berangkat, ayah memberi pilihan kepadaku, "Kamu ingin Blackberry atau kamera SLR?", ujar ayah. Sejenak aku berpikir dalam hati, "Kalau aku pilih Blackberry, berarti aku tidak akan beli kamera, tetapi, kalau aku beli kamera, Blackberry bisa menyusul, karena harga SLR jauh lebih mahal dari pada harga Blackberry", pikirku. Alhasil, aku dan ayah keluar dari toko dengan membawa sebuah Kamera SLR Canon 550D. Wah, betapa senangnya hatiku.



Punya barang baru pasti masih disayang-sayang, dipegang-pegang, digunakan sampai ingin tidur malam. Dengan kehati-hatian diriku pada kamera SLR yang satu ini, aku tak ingin banyak orang yang memegang kameraku, karena takut rusak jika tidak bisa menggunakannya dan bukan barang murahan.



Aku menggunakan kamera ketika mata kuliah Fotografi setiap hari Kamis jam satu siang. Selebihnya, aku hunting bersama teman-teman untuk mengerjakan tugas itu. Senang dan seru sekali berjalan bersama teman-teman yang mempunyai kamera juga. Jadi, setiap ada moment yang bagus, bisa langsung motret.



Suatu hari, aku membawa kamera itu pada acara kampus. Disaat itu pula aku menjadi dokumentasi. Nikmat memotret orang sekitar, tetapi yang disayangkan, karena aku orangnya agak narsis juga, terkadang aku juga ingin difoto, hehehe.



Aku sangat suka sekali hunting foto keluar bersama teman-teman, mempunyai pengalaman baru, mengetahui lingkungan sekitar, dan lebih mendapatkan makna terdalam.




Kamera SLR itu sudah aku bawa hampir kemanapun aku pergi, diantaranya: Ancol, Kota Tua, Car Free Day Sarinah dan Thamrin, Passer Baroe, Bali, Anyer, Sukabumi, Sekolah Raihan, dan lain-lain.



Beberapa hari setelah aku ujian Teknik Fotografi dan Audio Visual, kameraku mulai menganggur. Tidak pernah digunakan lagi. Padahal hasilnya lumayan bagus. Pernah kameraku benar-benar merasakan apa yang aku rasakan. Saat hatiku benar-benar sakit, kameraku pun menjatuhkan dirinya, padahal pakai tripod. Sudah hatiku sedih, kameraku juga merasakan hal yang sama. Kamera SLR yang sudah mengerti akan keadaan pemiliknya.

Sungguh, kameraku sekarang sangat malang, jarang dibersihkan lensanya, jarang digunakan kameranya, dan juga jarang aku bawa kemana-mana. Maaf yaa kameraku yang kusayang dan memiliki nasib malang ini. Mungkin belum ada job, jadi untuk sementara menjadi pengangguran dahulu ya.

Keinginanku ingin bisa menggunakannya kembali agar tidak percuma membeli kamera hanya untuk mata kuliah saja. Hunting yang kurindukan, agar kameraku juga bahagia. Tapi aku bersyukur, tidak semua orang mempunyai kamera SLR dan aku salah satu orang yang memilikinya. :D

Sabtu, 13 Agustus 2011

Dibawah Kesadaran Diriku

Berawal dari si dia yang datang terlambat saat perkuliahan. Setiap mata kuliah itu selalu aku perhatikan. Pertamanya hanya iseng-iseng, ternyata malah kecantol juga aku pada dirinya. Sepertinya dia punya aura yang berbeda dari yang lain. Dari cara memandang, bicara, sampai gerak-geriknya.

Kamis demi kamis aku menanti kehadirannya. Menunggu ia menyapa diriku. Faktanya, dia tidak mengenalku, sedih rasanya. Satu semester berlalu begitu saja. Aku masih berharap akan bisa bertemu dan dekat dengan dirinya.

Tiba di penghujung semester dua, setelah enam bulan hanya bisa memandangnya. Alhamdulillah bisa dipertemukan lagi dengan dirinya pada lain tempat dan situasi. Seneng bisa kenalan sama dia, walaupun sudah tahu sebelumnya, hehehe. Menginap tiga hari bersama dia, uuuuuu rasanya pengen terbang melayang saat itu, hehehe.

Memasuki kuliah dan sebuah ukm yang Alhamdulillah masih murni ini, ternyata kami dimasukkan dalam satu kepengurusan. Senangnya bisa bertemu dia terus, hahahaii. Kepengurusan terus berlanjut, bareng satu hari piket juga, hari Jumat, tambah asik deh, ihiiiyy.

Aku yang suka berbincang dengannya tentang mata kuliah yang sama. Dia butuh bantuan, aku bantu. Dia butuh buku, aku pinjamkan. Dia butuh absen, aku absenkan. Dia butuh tugas untuk lulus mata kuliah itu, aku bantu mengerjakannya. Dia hanya membalas dengan ucapan, "terima kasih nurul, jadi orang terlalu baik banget, jadi bingung mau balas dengan apa". Oke, engga masalah, kita saling tolong menolong.

Lama kelamaan kok dia seperti memanfaatkan aku yah. Dari mengerjakan tugas, sampai absen. Emang sih bisa bantu dia untuk lulus, tapi tidak begitu juga kali yah caranya. Sungguh, aku tidak menyadari semua ini. Aku senang membantu dia, tapi bagaimana dia padaku?

Aku mulai mengetahui bahwa ada seorang wanita yang menjadi pilihan hatinya. Ada sisi yang berbeda dari dirinya ketika melihat gadis itu. It's ok, itu tidak membuatku patah semangat untuk membantunya. Saat menjelang uas, kita barter tugas. Aku melihat hasil tugasnya, tidak sesuai dengan yang aku inginkan. Akhirnya, aku mencari sendiri tugas itu. Dan dia pun hanya menerima tugas yang telah aku kerjakan dengan sedikit copas dan pendapat, tanpa pemikiran yang jauh, hehehe agak curang dikit.

Alhasil, detik-detik kepengurusan ukm berakir, tibalah saatnya dia menyatakan cinta dan perasaannya pada gadis pujaan hatinya. Sungguh tidak menyangka, dia melakukannya. Lalu yang selama ini aku lakukan untuknya itu dianggap apa? Sakit rasanya melihat itu semua. Dan yang lebih lagi aku mendokumentasikan momen itu yang seharusnya aku tunggu untuk kebahagiaanku, berubah menjadi kesedihan.

Aku tak menyangka, semua ini terjadi dibawah kesadaran diriku.