Sabtu, 10 September 2011

Kamera Ku Sayang, Kamera Ku Malang

Sekitar awal bulan Maret 2011, aku dan ayah pergi ke toko Fokus Nusantara. Tujuannya ingin membeli kamera, karena ada mata kuliah Teknik Fotografi dan Audio Visual. Sebelum berangkat, ayah memberi pilihan kepadaku, "Kamu ingin Blackberry atau kamera SLR?", ujar ayah. Sejenak aku berpikir dalam hati, "Kalau aku pilih Blackberry, berarti aku tidak akan beli kamera, tetapi, kalau aku beli kamera, Blackberry bisa menyusul, karena harga SLR jauh lebih mahal dari pada harga Blackberry", pikirku. Alhasil, aku dan ayah keluar dari toko dengan membawa sebuah Kamera SLR Canon 550D. Wah, betapa senangnya hatiku.



Punya barang baru pasti masih disayang-sayang, dipegang-pegang, digunakan sampai ingin tidur malam. Dengan kehati-hatian diriku pada kamera SLR yang satu ini, aku tak ingin banyak orang yang memegang kameraku, karena takut rusak jika tidak bisa menggunakannya dan bukan barang murahan.



Aku menggunakan kamera ketika mata kuliah Fotografi setiap hari Kamis jam satu siang. Selebihnya, aku hunting bersama teman-teman untuk mengerjakan tugas itu. Senang dan seru sekali berjalan bersama teman-teman yang mempunyai kamera juga. Jadi, setiap ada moment yang bagus, bisa langsung motret.



Suatu hari, aku membawa kamera itu pada acara kampus. Disaat itu pula aku menjadi dokumentasi. Nikmat memotret orang sekitar, tetapi yang disayangkan, karena aku orangnya agak narsis juga, terkadang aku juga ingin difoto, hehehe.



Aku sangat suka sekali hunting foto keluar bersama teman-teman, mempunyai pengalaman baru, mengetahui lingkungan sekitar, dan lebih mendapatkan makna terdalam.




Kamera SLR itu sudah aku bawa hampir kemanapun aku pergi, diantaranya: Ancol, Kota Tua, Car Free Day Sarinah dan Thamrin, Passer Baroe, Bali, Anyer, Sukabumi, Sekolah Raihan, dan lain-lain.



Beberapa hari setelah aku ujian Teknik Fotografi dan Audio Visual, kameraku mulai menganggur. Tidak pernah digunakan lagi. Padahal hasilnya lumayan bagus. Pernah kameraku benar-benar merasakan apa yang aku rasakan. Saat hatiku benar-benar sakit, kameraku pun menjatuhkan dirinya, padahal pakai tripod. Sudah hatiku sedih, kameraku juga merasakan hal yang sama. Kamera SLR yang sudah mengerti akan keadaan pemiliknya.

Sungguh, kameraku sekarang sangat malang, jarang dibersihkan lensanya, jarang digunakan kameranya, dan juga jarang aku bawa kemana-mana. Maaf yaa kameraku yang kusayang dan memiliki nasib malang ini. Mungkin belum ada job, jadi untuk sementara menjadi pengangguran dahulu ya.

Keinginanku ingin bisa menggunakannya kembali agar tidak percuma membeli kamera hanya untuk mata kuliah saja. Hunting yang kurindukan, agar kameraku juga bahagia. Tapi aku bersyukur, tidak semua orang mempunyai kamera SLR dan aku salah satu orang yang memilikinya. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar